Selasa, 03 Januari 2012

kenapa pacaran?

Kenapa pacaran?
Kayaknya aneh di telinga kita, kalau ada yang bertanya seperti itu. Tapi sungguh aku pernah melakukannya (bertanya tentang alasan pacaran).
Apa sih definisi pacaran? Hmm, mungkin kurang lebihnya adalah sebuah ikatan tanpa status resmi antara pria dan wanita dewasa untuk bisa saling berbagi suka dan duka,  tanpa ikatan tanggung jawab yang resmi, hanya berdasarkan rasa suka dan sayang, dengan dibatasi aturan tertentu. (Ada yang mau menambahkan?)
Sebuah ikatan tanpa tanggung jawab resmi..hm…kalo gak resmi berarti illegal dunk ya..
Antara pria dan wanita dewasa..berarti yang cinta monyet (cinta sama monyet?? J) gak termasuk lah yaa…
Ingat ya..ada batas aturan tertentu..
Trus kalo belum dewasa tapi suka sama seseorang gimana?
Simak terus yuk penjelasan berikutnya.
Berikut adalah beberapa alasan dari adek-adek yang ku tanya “kenapa pacaran”, berikut aku beri point untuk tiap jawabannya untuk mengukur sejauh mana manfaat dan kemudhorotan dari pacaran:
  1. Karena butuh pelampiasan untuk tempat curhat tentang teman-teman, keluarga, pelajaran dll
Ini alasan yang paling sering saya terima..menyisakan tanya. Memang kemana orang tuanya? Bukannya orang tua yang harusnya ada di posisi itu? Coba fikirkan baik-baik deh..kalo orang tua, apa bisa menjadi bekas orang tua? Kalo pacar mah, begitu putus jadi mantan pacar deh..dari yang lengket kayak di-lem,  begitu break tiba-tiba di-em di-em-an (baca: diem-dieman)..nah loh, ngaku lo
Kenapa tidak bersahabat saja? Sahabat dengan teman sejenis (wanita dengan wanita, laki-laki dengan laki-laki) tentu akan lebih aman. Bukankah sahabat pun akan selalu ada ketika susah dan senang? Cobalah berbagi dengan sahabatmu yang sejenis..karena rasanya lebih murni, lebih bebas..kamu bisa bicarakan tentang apapun pada sahabatmu yang sejenis, beda dengan sahabat dari lawan jenis..masa kita yang wanita mau cerita ini itu tentang haid pada sahabat yang laki-laki? Gak lucu jadinya
  1. Malu, masa gak punya pacar, gugh gaul dunk
Ini alasan kedua yang klise
Masa seh? Cuma karena gak punya pacar, dibilang gak gaul? Berarti salah cari lingkungan tu…justru yang men-judge bahwa yang gak punya pacar itu gak gaul..berarti dia-nya yang gak gaul, gak up to date..kan kriteria anak gaul sekarang sudah bergeser..(sudah baca catatanku yang tentang anak gaul blom? Klu belom, baca dulu ya ^_^)..tinggalin aja temen yang cuma menilai kita dari satu sisi, artinya dia belum bisa menerima jati diri kita yang sebenanya (bukan dalam arti memutus silaturahim ya, melainkan tetap berteman namun tidak intens, syukur-syukur bisa  membawa dia ke prinsip kita). Teman yang seperti ini berarti tidak mau melihat sisi lain dari diri kita. Bukankah Allah menganugerahkan setiap manusia itu dengan potensi yang berbeda-beda? Misalkan si fulanah A memang kecerdasan emosinya baik, tapi belum tentu kecerdasan akademiknya baik pula. Si Sulan B memiliki kecerdasan bahasa yang ok, tapi kecerdasan bermusik yang kurang..nah, bisa tidak itu semua di- judge? Klu nekat untuk di samaratakan mah sama aja kayak analog : 2 apel + 3 jeruk..bisakah menjadi 5 apel? Atau 5 jeruk? Itulah fitrah manusia yang berbeda..semua harus dihormati selama ia tidak melanggar nilai agama dan kesusilaan.
  1. Lumayan, kalo ada pacar kemana-mana bisa di antar, ada yang traktir jajan, ada yang bisa belikan barang-barang..
Wah, pacar begini mah di cut aja. Berarti dia cuma ‘asas manfaat’ aja..ada uang abang/ neng disayang, tak ada uang abang/ neng di tendang..
Cewek matre, cowok matre..ke laut aje
Sekarang  yuk, coba kita ukur lebih banyak mana manfaat atau mudhorotnya di dalam pacaran?
  1. Pacaran katanya, bisa memacu semangat belajar
Suer?? Yakin?? Karena yang  aku temui, justru banyak yang nilai akademisnya turun gara-gara ribut dengan pacarnya..jadi point ini akan ku beri nilai -1
  1. Pacaran bisa meningkatkan PD
Oh ya? Hmm, mungkin merasa ‘laku’ kali ya (;p)..ok deh..point ini bolehlah aku kasih +1, walaupun cara untuk meningkatkan PD masih banyak yang lebih ampuh, misalnya dengan memiliki satu keahlian aja..kita pasti bisa lebih baik.
  1. Pacaran hati jadi tenang, karena merasa penuh, ada yang memperhatikan
Hmmm, awalnya iya..tapi lama-lama…gak yakin deh tetep tenang..
Ingat ini gak “Laa taqrobuz zina” janganlah kalian mendekati zina..lah mendekatinya aja gak boleh apa lagi zina nya..
Berarti ada nilai dosa disana, dan setiap dosa itu akan menimbulkan hati yang tidak tenang. So, pasti point ini salah. Aku beri nilai -1 ya..
  1. (Kembali lagi pada) “Laa taqrobuz zina’.
Apa kita fikir pacaran itu bukan mendekati zina? Ada yang pernah bercerita padaku, “Saya kalau pacaran cuma untuk saling berbagi cerita aja kok, gak pernah berdua-duaan..pacarannya berjama’ah dengan teman-teman yang lain”.
Kayaknya itu baru awalnya deh..coba deh fikirkan kata-kata ini..
Menatap dengan rasa yang ditunggangi hawa nafsu adalah zina-nya mata
Menyentuh kulit dengan kulit walau hanya menyeka rambut pasangan, menyentuh tangan pasangan bukan muhrim adalah zina nya tangan
Mengangan-angankan kehadirannya, perhatiannya, kasih sayangnya adalah zinanya hati.
Nah, minimal pacaran menghadirkan zina hati..setuju?
Dari zina hati berlanjut ke zina mata, dilanjutkan ke zina tangan, kemudian ke zina anggota tubuh lainnya. Naudzubillah.
Bukankah tidak ada yang melakukan zina ketika pertama kali bertemu?(kecuali yang telah mati hatinya)..bukankah zina itu berawal tahap demi tahap?
Jadi point ini aku beri nilai -5
  1. Pacaranku adalah masa penjajakan menuju pernikahan
Sebenarnya ada jalur yang lebih ok, namanya ta’aruf (perkenalan), jadi sebatas menyamakan visi misi tentang pemaknaan pada keluarga, gaya hidup, dll yang dianggap perlu (mengingat setiap orang memiliki prinsip hidup yang berbeda). Ok lah kalau memang ada gol-nya..tapi tentukan, mau berapa lama penjajakannya? 1 bulan? 6 bulan ? 2 tahun? 3 tahun?
Masa penjajakan sampe 3 tahun? Keburu bosen kali..yang ada pacaran 3 tahun ditutup dengan pernikahan 3 bulan selesai..ya, karena dah bosen, dah tahu luar dalamnya..
Coba imajinasikan ini “Ketika pacarannya itu setelah menikah…Awalnya hanya sebatas mengenal bahwa ia calon pasangan yang baik (diukur dengan kriteria-kriteria tertentu), kemudian  setelah menikah baru deh terkaget-kaget karena si- dia ternyata punya sifat begini dan begitu..Wah ternyata pasanganku jago ini..wah ternyata ia berbakat di bidang itu..wah ternyata kita banyak kesamaan pada hal-hal yang disukai”…seru kan?
Yang pasti, masalah yang hadir setelah pernikahan itu akan menambah kehangatan hubungan suami istri, karena cintanya murni, berasal dari Allah. Karena isi cintanya bukan melulu nafsu. Karena di dalamnya ada sakinah, mawaddah wa rohmah. Karena di dalamnya ada tanggung jawab, cinta dan pengorbanan. Beda, dengan masalah yang hadir ketika pacaran, yang selalu menyisakan luka.
Point ini bolehlah aku beri nilai +1 jika memang benar-benar-benar butuh waktu yang tidak  lama
Nah sekarang, monggo point-nya di jumlah..jika banyak minusnya, artinya lebih banyak mudhorotnya, dan kita berkewajiban untuk meninggalkannya (bolehlah belajar mundurnya setahap demi setahap)..tapi jika point-nya banyak plus nya..aku mah yakin, anda salah hitung ;p

Terngiang kembali tentang kisah cinta putri Rosulullah tercinta dengan Ali bin Ali Tholib. Bahwa sesaat setelah pernikahan mereka, mereka saling mencurahkan isi hati. Ali sendiri sudah lama menaruh hati pada Fathimah. Siapa-lah yang tidak jatuh cinta. Putri seorang Nabi, akhlaknya mulia, kecantikannya tiada yang menyerupai dengan pipinya yang kemerahan. Fatimah mengatakan kepada Ali, bahwa sebelum mereka menikah Fathimah sudah pernah jatuh cinta kepada seorang laki-laki. Sebagai seorang suami yang sedang berbahagia dengan pernikahan yang diimpikannya, tentu saja hal tersebut membuat Ali kaget, cemas, bahwa istrinya pernah mengharapkan seorang laki-laki dalam hidupnya. Namun seketika hatinya menjadi terbanjiri dengan kebahagiaan dan rasa syukur ketika mengetahui bahwa yang diidamkan Fathimah untuk menjadi suaminya, tidak lain adalah dirinya sendiri.
Bayangkan, ketika itu terjadi pada diri kita. Saat diri kita menjadi orang yang pertama dan terakhir bagi hati seseorang, maka pastilah kita yang ter-spesial di hatinya. Mau? Lakukanlah hal yang sama..bersihkan hati, persiapkanlah hati kita untuk menerima yang pertama dan terakhir (minimal persiapkan hati untuk orang terspesial yang benar-benar riil telah resmi menjadi pasanan halal kita).
Kalau mau mendapatkan ikan pancingan seberat 25 kg, maka umpannya pun harus ikan seukuran telapak tangan. Kalau mau mendapatkan jodoh sekelas Ali bin Abi Tholib, maka menjadilah seperti Fathimah binti Muhammad SAW.
Ku tutup dengan sebuah amazing words dari adzan…
Hayya ‘alal falah..come to success..marilah menuju kemenangan…
So..r u ready to be a different man/ woman (read: amazing man/ woman)..
Say no to “special relationship” before married…

yakin lo anak gaul?


Yakin kamu anak gaul?
Jangan ngerasa gaul dulu sebelum baca tulisan ini..
Udah gak jamannya bro..kalo profil anak gaul itu cuma ribut masalah pacar, geng, tren masa kini entah itu film, musik, gadget, apalagi cuma fashion n makanan (yang notabene cuma numpang lewat aja di tenggorokan)..gak level bro..sis..dikit-dikit buat status fb tentang ribut sama pacar..dikit-dikit buat status sok penting dengan cerita “belum mandi lah, lagi ini itu tentang daily activity-nya”..hmmm, sorry ye..norak.
Udah gak gape lagi klu cuma nongkrongnya di 3 K : kantin (termasuk clubbing, café, or sekedar nongkrong-nongkrong di tempat gak jelas), kos n kampus..itu mah yang culun punya..
Kriteria gaul, skarang ini sudah bergeser..bahwa remaja dengan icon enerjiknya menjadi seorang dengan sosok yang SPK2. Ngerti artinya gak?
Ini istilah dari doctor Syafi’i Antonio..pakar keuangan yang gak cuma gape di ekonomi, melainkan juga menguasai bahasa inggris (of course), bahasa arab, sejarah,dan teknologi..(ini baru kerennnn).
Menurut beliau SPK2 itu kepanjangan dari Sholeh, Pintar, Keren, Kaya….canggih gak tu..
Anak gaul itu ya harus sholeh..memegang teguh prinsip keimanannya (bukan sekedar keislaman loh..coba bedakan ya ). Ia memiliki prinsip, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan tren zaman yang makin menggila. Gak dikit-dikit ikutan temen..masa’ cuma karena gak pengen dibilang culun truz ikut-ikutan ngrokok..Cuma gara-gara gak pengen dibilang gak laku, jadi bertingkah lirik sana-sini, genit sana sini demi mendapat gebetan..sorry ye..itu namanya plin plan, gak punya prinsip..jelas gak gaul, gak asik anak begitu mah. So, just show ur princip, show who u are..
Anak gaul juga harus pintar..pintar disini bukan dinilai dari akademik di skul nya loh ya (walaupun itu bisa jadi SALAH SATU indikator)..melainkan ia harus memiliki bidang spesialisasi sendiri yang “dia banget”. Satu bidang, cukup..klu ada 10 bidang, ya namanya anugerah..makin banyak bidang spesialisasi yang “lo banget”, artinya harus tambah banyak bersyukur tu..harus makin menunduk kayak padi. Tapi, bukan berarti dia kemudian masa bodoh, cuek bebek dengan bidang yang lainnya..ya minimal sebatas tahu-lah, walaupun gak expert..
Keren..hmmm, dalam menyimpulkan kata ini pasti banyak yang mengkonotasikannya pada fisik. Padahal ‘gak banget’ lah..kan, kita gak pernah pesan fisik kita kayak apa ke Allah..keren disini sebenernya multiarti..gabungan dari beberapa sudut pandang..dari segi fisik..ya minimal good looking karena tampilannya yang rapi, apalagi ditambah senyum manis tulus ikhlas, rasa emapati..pasti tambah ok..dari segi otak..minimal nyambunglah ketika kita ngomong apapun..dari segi gaya..gak jadul tapi juga gak rese’..dari segi norma kesusilaan..yang pasti dia harus sosok yang punya  sopan santun..n so pasti dari segi kemampuan..ya balik lagi tu pada kriiteria pintarnya, ya minimal nyerempet-nyerempet dikit lah..kalo udah punya bidang spesialisasi yang ‘dia banget’, otomatis dia akan menjelma jadi makhluk yang keren
Kaya..wuih..ini kriteria jangka panjang nih..kalo sholehnya udah (berarti udah ngantongin ridhonya Allah n ortu nih), pinter, keren..kayaknya tinggal nunggu waktu aja deh sampai rezeqinya mengalir..(jangan lupa, diistiqomahin sholat duhanya)
Coba imajinasikan..kalo kita diminta memilih..lebih cenderung respek pada seseorang yang bawa mobil tapi tingkahnya slengekan atau bawa mobil tapi santun bersahaja (akhlaqul karimah)..? klu hati kita masih normal, kayaknya memilih opsi kedua deh. Itulah fitrah manusia yang mengejar kesempurnaan.
Ketika kita bisa menjadi seseorang yang “berbeda” dalam hal kebaikan, kenapa tidak? Kenapa kita harus memilih sebagai “orang yang biasa?”. Cara berfikirnya begini..kita pasti punya mimpi, misalnya saat kita bekerja, berapa target yang kita pasang untuk gaji kita? Jika disuruh memilih, 1 juta, 2 juta atau 5 juta? Kalau saya sih pasti memilih 10 juta ;) itulah fitrah manusia, yang mengejar keidealan, kesempurnaan.
Begitu pula dalam hal-hal lain..coba bandingkan antara harga anggrek biasa dengan anggrek hitam? Anggrek sendiri sudah merupakan bunga yang eksklusif, tapi Anggrek hitam adalah bunga yang sangat “spektakuler harganya”..ia “bukan bunga biasa”..maka ia mendapat “penghargaan lebih”.
So, kamu masih mau jadi “orang biasa” ?
“Succes is in ur hand”…atau dalam Firman Allah “Wa hadainaa hun najdain” dan Kami berikan kepadamu dua jalan.
Teringat pesan seorang dosen..dimanapun kita berada, maksimalkan ikhtiar (plus doa juga) karena kita tidak tahu kemana kita akan berlabuh. Saat kita sekarang menjadi seorang siswa, lakukan ikhtiar dengan maksimal, siapa tahu besok kita “tercebur” menjadi guru, pejabat, orang terhormat, ‘alim ‘ulama…jangan sampai kelakuan kita hari ini mencoreng kesuksesan esok yang kita torehkan dengan tinta emas.
Selamat menjalankan misi SPK2..
Salam sukses selalu..baarokallahu fiikum