Cerpen
***
Malam telah larut. Aku masih disini,ditemani gerimis yang berusaha menghiburku dengan nyanyiannya, namun ternyata hampanya hatiku tetap tak terusik. Ku coba pejamkan mata, namun rupanya rasa kantuk pun enggan berteman denganku. Ku alihkan pandanganku ke arah jendela yang tirainya hanya tertutup separuh. Tiba-tiba terlihat kilatan cahaya bergerak,dan terdengar gemuruh geledek yang cukup membuat merinding. Lalu aku melihat sebuah cahaya putih keluar dari tubuhku, aku terkesiap. Apakah itu? Cahaya itu lama kelamaan membentuk sebuah sosok yang sangat tak asing bagiku. Spontan aku berteriak "Stop. Akan kemana kamu? Jangan pergi. Stop" ku coba gerakkan tanganku menggapainya. Ya, sosok itu adalah diriku. Tapi perlawananku tertahan oleh kaku yang amat sangat. Oh tidak, seluruh tubuhku selain mata, tak ada yang bisa ku gerakkan. Fikiranku melayang. Apa aku sudah meninggal?? "Oh Tuhan, tolong jangan ambil dulu nyawaku. Beri aku kesempatan sekali lagi untuk memperbaikinya. Tuhan,tolong kabulkan pintaku yang satu ini. Tolonglah" aku berteriak memohon. Tiba2 sosok itu berhenti bergerak, kemudian ia berubah posisi menjadi berdiri namun tetap dalam keadaan melayang. Aku tertegun ketakutan. Bukan ketakutan karena melihat "hantu" diriku, melainkan ketakutan karena sosok itu adalah benar-benar diriku.
Tiba-tiba terdengar suara lirih, namun tetap membuatku merinding. "Teman-teman, adakah di antara kalian yang tahu dimana Allah?Betapa aku saat ini sangat merindukannya". Darimanakah suara itu berasal? Benarkah dari sosok di dadaku itu yang berbicara? Ya, segumpal darah, berwarna merah itu..kini berbicara..Lalu terdengar jawaban riuh yang lagi-lagi membuatku merinding. Darimanakah suara-suara itu? Ternyata dari rambut, mata, telinga, tangan dan semua anggota tubuhku berbicara, sedangkan mulutku hanya terdiam membisu. "Wahai rambut yang tergerai indah, apakah kau tahu dimana aku bisa bertemu Allah?" tanya hatiku. Rambut menjawab "Sebenarnya Allah ada disini bersamaku jika saja kau mau menutupku dengan kerudung. Tapi ternyata kau lebih memilih menggeraikan dan memamerkannya kepada para lelaki yang tidak memiliki hak atasmu. Sehingga Allah pun jarang menyapaku. Coba tanyalah pada mata". Hatiku beralih pandangannya kepada mataku "Wahai mata yang bersinar indah, apakah kamu melihat Allah?". Mata menjawab dengan acuh "Allah akan senang disini bersamaku saat kau mencari ilmu atau melihat hanya pada hal-hal yang baik ataupun saat kau mengaji. Sayangnya kau jarang sekali mengajakku membaca surat cintaNya" lalu mata mendelik dengan berwarna merah "Karena itu,pergilah kau jauh dariku. Aku tidak menyukaimu". "Wahai mata, janganlah kau semarah itu padaku. Bukankah aku tidak selalu berbuat salah padamu? Bukankah terkadang aku masih memfasilitasimu dg ilmu?" kata hatiku lagi. Perlahan warna merah mataku surut, dan ia berkata "Kau benar wahai hati, tapi aku masih belum bisa membantumu".
"Baiklah wahai mata. Terimakasih atas pengertianmu" hatiku sedikit lega. Kemudian hatiku melanjutkan pencariannya kepada telingaku "Wahai telinga yang budiman, apakah kau tahu dimana Allah berada?". Lalu telinga berkata dengan lembut "Cobalah ketika kau dengar alunan ayat suci, kau datang kesini wahai hati. Saat itu Allah sedang duduk tersenyum bersamaku.." lalu apakah sekarang Allah sedang bersamamu?" jawab hatiku. "Sayangnya tidak. Allah sedang jarang mengunjungiku karena kau jarang pula mengajakku ke tempat kajian ilmu" sahut telinga sedih.
"Baiklah telinga, aku harus melanjutkan perjalananku" hatiku meninggalkan telinga dan beranjak menuju lidah. "Wahai lidah, apakah kau tahu kemana aku harus pergi agar aku bertemu Allah?"
"Aku sudah mendengar semua percakapanmu tadi dengan teman-temanku. Dan aku tak bisa membantumu, karena kau pun tidak selalu bisa menjagakanku. Kau tahu kan kalau aku tidak bertulang?" lidah berkata dengan ketus. "Baiklah wahai lidah. Aku tidak akan mengganggumu" hati pun semakin tertunduk lesu. Di tengah langkah goyahnya, ia menaruh harap pada tangan. "Wahai tangan yang lentik, maukah kamu menunjukkanku jalan menuju Allah?".
Tangan menjawab "Kau sering menggunakanku untuk menulis, mengetik ilmu dalam kuliahmu. Kau juga terkadang memberiku kehormatan untuk memberi pengemis di jalan. Mari aku tunjukkan jalan menuju Allah. Apakah kau tahu? Saat kau menggunakanku untuk ilmu dan sedekah itu,sebenarnya Allah saat itu berbisik padaku. Allah berkata bahwa saat itu engkau nampak lebih cantik, dan Allah ingin sekali menyapamu. Karena itu,menurutku lebih seringlah menggunakanku dalam kebaikan, maka Allah sendiri yang akan datang padamu" sahut mata sembari tersenyum tulus.
Mendengar itu semua hatiku terlonjak gembira "Benarkah? Baiklah mulai saat ini aku akan lebih sering menggunakanmu dan teman-teman lainnya untuk kebaikan wahai tangan yang lentik".
"Sekarang pergilah ke kaki. Dia juga menyayangimu. Pasti dia senang jika kau kunjungi" sahut tangan lagi. "Terima kasih. Terima kasih tangan. Aku akan bergegas mengunjungi kaki" kali ini hatiku lebih bersemangat. "Wahai kaki yang jenjang, bagaimana kabarmu? bisakah kau membantuku?"
"Aku sangat baik. Tentu saja aku bisa membantumu. Tadi aku sudah mendengar percakapanmu dengan tangan. Aku pun demikian wahai hati.aku tersanjung karena kau selalu membawaku ke tempat menuntut ilmu. Namun aku juga bersedih, karena aku sering dibiarkan terbuka" kata kaki.
"Aku telah berjanji, akan berubah lebih baik" sahut hatiku riang. Aku harus melanjutkan perjalananku.
"Baiklah wahai mata. Terimakasih atas pengertianmu" hatiku sedikit lega. Kemudian hatiku melanjutkan pencariannya kepada telingaku "Wahai telinga yang budiman, apakah kau tahu dimana Allah berada?". Lalu telinga berkata dengan lembut "Cobalah ketika kau dengar alunan ayat suci, kau datang kesini wahai hati. Saat itu Allah sedang duduk tersenyum bersamaku.." lalu apakah sekarang Allah sedang bersamamu?" jawab hatiku. "Sayangnya tidak. Allah sedang jarang mengunjungiku karena kau jarang pula mengajakku ke tempat kajian ilmu" sahut telinga sedih.
"Baiklah telinga, aku harus melanjutkan perjalananku" hatiku meninggalkan telinga dan beranjak menuju lidah. "Wahai lidah, apakah kau tahu kemana aku harus pergi agar aku bertemu Allah?"
"Aku sudah mendengar semua percakapanmu tadi dengan teman-temanku. Dan aku tak bisa membantumu, karena kau pun tidak selalu bisa menjagakanku. Kau tahu kan kalau aku tidak bertulang?" lidah berkata dengan ketus. "Baiklah wahai lidah. Aku tidak akan mengganggumu" hati pun semakin tertunduk lesu. Di tengah langkah goyahnya, ia menaruh harap pada tangan. "Wahai tangan yang lentik, maukah kamu menunjukkanku jalan menuju Allah?".
Tangan menjawab "Kau sering menggunakanku untuk menulis, mengetik ilmu dalam kuliahmu. Kau juga terkadang memberiku kehormatan untuk memberi pengemis di jalan. Mari aku tunjukkan jalan menuju Allah. Apakah kau tahu? Saat kau menggunakanku untuk ilmu dan sedekah itu,sebenarnya Allah saat itu berbisik padaku. Allah berkata bahwa saat itu engkau nampak lebih cantik, dan Allah ingin sekali menyapamu. Karena itu,menurutku lebih seringlah menggunakanku dalam kebaikan, maka Allah sendiri yang akan datang padamu" sahut mata sembari tersenyum tulus.
Mendengar itu semua hatiku terlonjak gembira "Benarkah? Baiklah mulai saat ini aku akan lebih sering menggunakanmu dan teman-teman lainnya untuk kebaikan wahai tangan yang lentik".
"Sekarang pergilah ke kaki. Dia juga menyayangimu. Pasti dia senang jika kau kunjungi" sahut tangan lagi. "Terima kasih. Terima kasih tangan. Aku akan bergegas mengunjungi kaki" kali ini hatiku lebih bersemangat. "Wahai kaki yang jenjang, bagaimana kabarmu? bisakah kau membantuku?"
"Aku sangat baik. Tentu saja aku bisa membantumu. Tadi aku sudah mendengar percakapanmu dengan tangan. Aku pun demikian wahai hati.aku tersanjung karena kau selalu membawaku ke tempat menuntut ilmu. Namun aku juga bersedih, karena aku sering dibiarkan terbuka" kata kaki.
"Aku telah berjanji, akan berubah lebih baik" sahut hatiku riang. Aku harus melanjutkan perjalananku.
Lama, hatiku kembali berjalan. Dalam letihnya ia terduduk sambil menangis."Aku lelah, letih Allah. Tolonglah aku. Sudilah menemuiku". Lalu terdengar suara "Aku adalah dekat". Suara yang menenangkan hatiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar